Sabtu, 29 Juni 2013

PENGEMBANGAN DESAIN INSTRUKSIONAL



PENGEMBANGAN DESAIN INSTRUKSIONAL


Makalah Revisi
Diajukan untuk memenuhi tugas matakuliah
 “Teknologi Pendidikan Islam”









Oleh:
Ahmad Nur Ismail
NIM: F1.3.2.12.172



Dosen Pengampu:
Dr. As’aril Muhajir, M.Ag.





PROGRAM PASCASARJANA
KONSENTRASI PENDIDIKAN ISLAM
IAIN SUNAN AMPEL SURABAYA
2013



A.    PENDAHULUAN
Kemajuan dan perubahan teknologi informasi dimaksud, adalah perubahan paradigma baru pada learning material (sumber belajar) dan learning method (metode pembelajaran). Manifestasi itu, melalui produk TI dewasa ini telah banyak memberikan alternatif berupa bahan belajar yang dapat digunakan dan diakses oleh peserta didik yang tidak dalam bentuk kertas, tetapi berbentuk CD, DVD, flashdisk, dan lain-lain. Inti dari bahan tersebut berupa program/software yang dapat dimanfaatkan pada pengembangan desain pembelajaran dengan menggunakan komputer sebagai perangkat utama. Dalam terminologi teknologi pembelajaran, konsep tersebut dikenal dengan istilah pembelajaran berbasis komputer atau CBI (Computer Based Instruction).[1]
Dalam hal pengembangan desain instruksional terdapat lima domain atau bidang garapan teknologi pembelajaran atau teknologi instruksional berlandaskan definisi AECT 1994, yaitu desain, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan dan penilaian.
Oleh karena itu, urgensi pengembangan desain pembelajaran (instructional design development) dalam setiap kegiatan belajar-mengajar tidak mungkin diabaikan, agar tercapai tujuan (goal/aims) kurikulum sekolah/pendidikan tinggi, juga penggunaan media pembelajaran pada tahap orientasi pembelajaran akan sangat membantu keefektifan proses pembelajaran dan penyampaian pesan dan isi pelajaran.
Problematika kita sekarang adalah: “Apakah kita sudah mampu mendesain media dan menggunakan media untuk kegiatan pembelajaran kita?”. Oleh sebab itu, melalui tulisan yang sangat singkat dalam makalah ini, penulis tertarik untuk mengkaji kembali tentang pengertian pengembangan desain instruksional/pembelajaran, fungsi-fungsi dan peran media pembelajaran, pemanfaatan media pembelajaran, model-model pengembangan desain pembelajaran, tekhnik pengembangan desain, dan pengembangan desain pembelajaran dalam Pendidikan Islam, serta terakhir kesimpulan.
B.     PEMBAHASAN
1.      Pengertian pengembangan desain pembelajaran/instruksional
Paradigma teknologi instruksional (instructional technology) adalah bagian dari teknologi pendidikan berdasar atas konsep bahwa, pembelajaran (instruction) adalah bagian dari pendidikan.[2] istilah pengembangan sistem instruksional (instructional system development) dan desain instruksional (instructional design) sering dianggap sama, atau setidak-tidaknya tidak dibedakan secara tegas dalam penggunaannya, meskipun menurut arti katanya ada perbedaan antara “desain” dan “pengembangan”. Kata “desain” berarti membuat sketsa atau pola atau outline atau rencana pendahuluan. Sedang “Pengembangan” berarti membuat tumbuh secara teratur untuk menjadikan sesuatu lebih besar, lebih baik, lebih efektif dan sebagainya.[3]
Sebelum pembahasan pengembangan desain pembelajaran (instruction) lebih jauh, seyogianya dipahami terlebih dahulu beberapa pengertian dan unsur-unsur yang ada di dalamnya sebagai berikut:
a.       Desain/rancangan (design) adalah suatu proses menentukan kondisi belajar dengan tujuan untuk menciptakan strategi dan produk dengan fungsi pengembangan pendidikan/instruksional.[4]
b.      Pembelajaran (instruction) adalah suatu proses dimana lingkungan seseorang secara sengaja dikelola untuk memungkinkan ia turut serta dalam tingkah-laku tertentu dalam kondisi-kondisi khusus atau menghasilkan respons terhadap situasi tertentu, yang mana pembelajaran merupakan sub-set khusus pendidikan.[5]
c.       Sistem Instruksional adalah semua materi pelajaran dan metode yang telah diuji dalam praktek yang dipersiapkan untuk mencapai tujuan dalam keadaan senyatanya.[6] Dengan kata lain bahwa sistem instruksional merupakan tatanan aktifitas belajar mengajar.
d.      Desain instruksional adalah keseluruhan proses analisis kebutuhan dan tujuan belajar serta pengembangan tekhnik mengajar dan materi pengajarannya untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Termasuk di dalamnya adalah pengembangan paket pembelajaran, kegiatan mengajar, uji coba, revisi dan kegiatan mengevaluasi hasil belajar.[7]
e.       Desain sistem instruksional ialah pendekatan secara sistematis dalam perencanaan dan pengembangan sarana serta alat untuk mencapai kebutuhan dan tujuan instruksional. Semua konsep sistem ini (tujuan, materi, metode, media, alat, evaluasi) dalam hubungannya satu sama lain dipandang sebagai kesatuan yang teratur sistematis. Komponen-komponen tersebut lebih dahulu diuji coba efektifitasnya sebelum disebarluaskan penggunaannya.[8]
f.       Pengembangan sistem instruksional adalah suatu proses menentukan dan menciptakan situasi dan kondisi tertentu yang menyebabkan siswa dapat berinteraksi sedemikian rupa sehingga terjadi perubahan didalam tingkah lakunya.[9]
g.      Pengembangan sistem instruksional adalah suatu proses secara sistematis dan logis untuk mempelajari problem-problem pembelajaran, agar mendapatkan pemecahan yang teruji validitasnya dan praktis bisa dilaksanakan;[10]
h.      Teknologi instruksional adalah proses yang kompleks dan terpadu yang melibatkan orang, prosedur, ide, peralatan, dan organisasi, untuk menganalisis masalah, mencari cara pemecahan, melaksanakan, mengevaluasi, dan mengelola pemecahan masalah-masalah dalam situasi dimana kegiatan belajar itu mempunyai tujuan dan terkontrol;[11]
i.        Instructional Technology is the theory and practice of design, development, utilization, management and evaluation of processes and resources for learning.[12]
Dari uraian beberapa pengertian di atas, maka dapat diambil sebuah simpulan bahwa yang dimaksud dengan pengembangan desain instruksional adalah usaha sadar terencana dan totalitas dengan se­perangkat prosedur yang berurutan dan berkesinambungan untuk menganalisis, mengelola/mendesain, mengevaluasi dan melaksanakan pengembangan desain instruksional sehingga menghasilkan sebuah produk yang disebut dengan multimedia.
2.      Kegunaan Media dalam Pembelajaran
Pada dasarnya mengapa perlu media dalam pembelajaran? Pertanyaan yang sering muncul mempertanyakan pentingnya media dalam sebuah pembelajaran. Kita seyogianya harus mengetahui dahulu konsep abstrak dan konkrit dalam pembelajaran, karena proses belajar mengajar hakekatnya adalah proses komunikasi, penyampaian pesan dari pengantar (sender) ke penerima (receiver). Pesan berupa isi/ajaran yang dituangkan ke dalam simbol-simbol komunikasi baik verbal (kata-kata dan tulisan) maupun non-verbal, proses ini dinamakan encoding.[13]
Penafsiran simbol-simbol komunikasi tersebut oleh siswa dinamakan decoding. Proses penafsiran adakalanya berhasil, adakalanya tidak. Kegagalan/ketidakberhasilan atau penghambat dalam proses komunikasi dikenal dengan istilah barriers atau noise. Nur Hamim dkk. merumuskan beberapa fungsi atau kegunaan media pembelajaran sebagai berikut:[14] (a) dapat mengatasi keterbatasan pengalaman yang dimiliki oleh para peserta didik;[15] (b) dapat melampaui batasan ruang kelas;[16] (c) memungkinkan adanya interaksi langsung antara peserta didik dengan lingkungannya; (d) menghasilkan keseragaman pengamatan; (e) membangkitkan keinginan dan minat baru peserta didik; (f) membangkitkan motivasi dan merangsang anak untuk belajar; dan (g) memberikan pengalaman yang integral/ menyeluruh dari yang konkrit sampai pada yang abstrak.
Yusufhadi Miarso, menambahkan kegunaan media dalam pembelajaran melalui kajian teoritik maupun empirik sebagai berikut:[17] (a) media mampu memberikan rangsangan yang bervariasi kepada otak kita, sehingga otak kita dapat berfungsi secara optimal; (b) media mampu meningkatkan efek sosialisasi, yaitu dengan meningkatkan kesadaran akan dunia sekitar; dan (c) media dapat meningkatkan kemampuan ekspresi diri dosen/guru maupun mahasiswa/siswa.
Selaras dengan Yusufhadi Miarso dan Nur Hamim dkk., Hamalik dalam Azhar Arsyad mengemukakan bahwa pemakaian media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa. Penggunaan media pembelajaran pada tahap orientasi pembelajaran akan sangat membantu terhadap efektivitas proses pembelajaran dan penyampaian pesan dan isi pelajaran pada saat itu. Selain membangkitkan motivasi dan minat siswa, media pembelajaran juga dapat membantu meningkatkan pemahaman, menyajikan data dengan menarik dan terpercaya, memudahkan penafsiran data, dan memadatkan informasi.[18]
Jadi, sesungguhnya kegunaan media dalam pembelajaran dapat disimpulkan sebagai pendorong (drive) kepada fungsi atensi, fungsi afektif, fungsi kognitif, dan fungsi kompensatoris dalam meningkatkan dan mengembangkan potensi peserta didik dalam proses belajar mengajar.
3.      Pola/Model pengembangan desain instruksional
Berdasarkan definisi teknologi pendidikan/teknologi instruksional sekarang, dapat diidentifikasikan empat pola dasar instruksional yang dapat diorganisasikan. Pola pertama, merupakan pola tradisional dalam bentuk tatap muka guru-siswa; Pola kedua, merupakan bentuk guru dengan “alat bantu audio visual” untuk membantu kegiatan proses pembelajaran; Pola ketiga; merupakan pola instruksional yang mengandung pemanfaatan sistem instruksional yang lengkap; dan pola keempat, merupakan pola instruksional dalam penggunaan sistem instruksional lengkap yang hanya terdiri dari pembelajaran bermedia, dimana guru tidak berperan langsung.[19]
Dari beberapa pola instruksional di atas, maka dapat disimpulkan dengan kombinasi sebagai pola sistem instruksional dalam gambar berikut:
Gambar 3.5.

                  
a.       Model paradigma baru pengelolaan instruksional
Model ini yang telah dikembangkan oleh Heinich (1970), model paradigma pengelolaan instruksional ini sejalan dengan diagram Morris, bedanya Heinich menunjukkan dengan jelas hubungan terkendali antara guru kelas dengan guru bermedia. Dalam hal ini Heinich menekankan bahwa dalam kegiatan ini guru kelas menguasai semua media, dan keputusan untuk menggunakan atau tidak sepenuhnya ada dalam kewenangannya.[20] Model ini dapat digambarkan dalam diagram berikut:


Gambar 3.6.





b.      Model ASSURE
Model ASSURE adalah sebuah model yang dikembangkan oleh Heinich dkk., dalam mengembangkan perencanaan penggunaan dan pembuatan media yang efektif. ASSURE merupakan kepanjangan dari kata sebagai berikut: (1) A = Analyze learner characteristic (menganalisis karakter siswa); (2) S = State objective (merumuskan tujuan); (3) S = Select or modify media (memilih dan memodifikasi media); (4) U = Utilize (menggunakan media); (5) R= Require learner response (meminta tanggapan siswa terhadap media yang digunakan); dan (6) E = Evaluate (mengevaluasi seberapa jauh tingkat efektifitas penggunaan media).[21]
c.       Model Pengembangan Pembelajaran Menurut Dick & Carey
Perancangan pengajaran menurut sistem pendekatan model Dick & Carey, dikembangkan oleh Walter Dick & Lou Carey. Menurut pendekatan ini terdapat beberapa komponen yang akan dilewati didalam proses pengembangan dan perancangan tersebut yang berupa urutan langkah-langkah.
Adapun urutan perancangan dan pengembangan model ini adalah sebagai berikut: (1) Identifikasi tujuan pengajaran (Identity Instructional Goals); (2) Melakukan analisis instruksional (Conducting a Goal Analysis); (3) Mengidentifikasi tingkah laku awal/karakteristik siswa (identity Entry Behaviours, Characteristic); (4) Merumuskan tujuan kinerja (Write performance Objectives); (5) Pengembangan tes acuan patokan (Develop criterian referenced test items); (6) Pengembangan strategi pengajaran (Develop Instructional Strategy); (7) Pengembangan atau memilih pengajaran (Develop and Select Instructional Materials); (8) Merancang dan melaksanakan evaluasi formatif (Design and Conduct Formative Evaluation) dan ; (9) Revisi pengajaran (Instructional Revitions).[22]
4.      Langkah-langkah pengembangan desain instruksional
Nur Hamim dkk., merumuskan langkah-langkah dalam pengembangan desain instruksional/pembelajaran sebagai berikut:[23] (a) mengkaji standar kompetensi dan kompetensi dasar; (b) mengkaji media yang cocok dengan SK dan KD bagaimana cara pencapaiannya; (c) merumuskan strategi dan caranya; (d) mengembangkan naskah atau isi pesan. Siapa yang akan menggunakan media pembelajaran? Apa pesan pokok yang akan disampaikan? Apakah ada media yang sudah dipakai? Apakah ada sumber informasi lain?; (e) memilih bentuk dan jenis media pembelajaran; (f) merancang dan menyelesaikan media pembelajaran; (g) melakukan uji coba dan evaluasi; (h) melakukan perbaikan; dan (i) melakukan evaluasi penggunaan media dalam kegiatan belajar mengajar.
Dari penjelasan model-model atau pola pengembangan desain instruksional dan langkah-langkah dalam pengembangan desain instruksional, maka dapat disimpulkan dengan dibuat sebuah model pengembangan desain instruksional yang disesuaikan dengan perkembangan teknologi dan informasi sekarang yaitu pembelajaran berbasis komputer (Computer Based Instruction).
C.    PENGEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM
Pengembangan pendidikan Islam melalui teknologi pendidikan secara konseptual sangatlah berperan dalam proses pembelajaran manusia dengan mengembangkan dan atau menggunakan aneka sumber, meliputi sumber daya manusia (narasumber), sumber daya alam dan lingkungan, sumber daya kesempatan atau peluang, serta dengan meningkatkan efektivitas dan efisiensi sumber daya keuangan. Bentuk pelaksanaan peran teknologi pendidikan itu dapat dibedakan dalam tiga kategori, yaitu:[24] (1) Pengembangan sistem belajar-pembelajaran yang inovatif; (2) Penggunaan teknologi komunikasi dan informasi dalam proses belajar; dan (3) Peningkatan kinerja sumber daya manusia agar lebih produktif.
Berdasarkan model pendekatan sistem pengembangan desain pembelajaran (Sistem Approach Model For Designing Instruction) Walter Dick & Carey sebagaimana disebutkan di atas, maka prosedur pengembangan ini mengikuti langkah-langkah yang diinstruksikan dalam model desain tersebut sebagaimana diberikut:
1.      Mengidentifikasi tujuan umum pembelajaran (Identifying Instructional Goals)
Langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengidentifikasi tujuan umum pembelajaran al-Qur’an Hadis dengan melakukan analisis kebutuhan untuk menentukan tujuan umum. Langkah ini berarti menentukan apa yang diinginkan untuk dapat dilakukan peserta didik setelah mengikuti kegiatan pembelajaran al-Qur’an Hadis (goals instruction). Tujuan umum diidentifikasi setelah berdasarkan hasil analisis kebutuhan, kurikulum bidang studi, masukan dari para ahli bidang studi.
Untuk mendapatkan gambaran tentang kualifikasi kemampuan yang diharapkan dan dapat dimiliki oleh peserta didik setelah mengikuti pembelajaran al-Qur’an Hadis di Madrasah Ibtidaiyyah, dapat dilakukan dengan mengkaji kurikulum al-Qur’an Hadis Madrasah Ibtidaiyyah yang mengacu pada Peraturan Menteri Agama (Permenag) No 2 Tahun 2008 Tentang Standar Kompetensi Lulusan dan Standar Isi Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab di Madrasah.
2.      Melakukan analisis pembelajaran (Conducting Instruction Analysis)
Setelah mengidentifikasi tujuan pembelajaran, langkah selanjutnya adalah dengan melakukan analisis untuk mengidentifikasi keterampilan-keterampilan bawaan yang harus dipelajari oleh peserta didik dalam rangka untuk mencapai tujuan pembelajaran khusus. Tujuan umum pembelajaran al-Qur’an Hadis yang telah teridentifikasi tersebut, selanjutnya dianalisis untuk mengidentifikasi keterampilan bawaan (subordinat skill).
3.      Mengidentifikasi tingkah laku awal/karakteristik siswa (identifying Entry Behaviours, Characteristic)
Dalam mengidentifikasi isi materi yang akan dimasukkan dalam pembelajaran, hal ini membutuhkan identifikasi atas keterampilan-keterampilan spesifik dan pengetahuan awal yang harus dimiliki oleh peserta didik agar siap memasuki pembelajaran dan penggunaan buku ajar. Demikian karakteristik umum peserta didik juga sangat penting untuk diketahui dalam mendesain pembelajaran.
Dapat dicontohkan dalam penggunaan buku ajar kelas V Madrasah Ibtidaiyyah untuk mata pelajaran al-Qur’an Hadis. Ketika melakukan analisis isi pembelajaran yang diperoleh dari SK dan KD mata pelajaran al-Qur’an Hadis, dapat diketahui bahwa pengetahuan awal atau prasyarat yang telah dimiliki oleh siswa berupa membaca al-Qur’an surat al-Kafirun dan surat al-Ma’un dan menghafalkannya dengan benar dan fasih yang telah mereka peroleh sebelumnya secara tuntas pada kelas II semester 2 serta pada kelas III semester 1. Sehingga sangat tepat menurut analisis penulis bahwa Q.S. al-Kafirun, surat al-Ma’un dan surat al-Takasur diatas, pada kelas V sudah diarahkan dan dikembangkan pada proses pengenalan secara linguistic berupa menerjemahkan arti lafal per-lafal dan mengetahui kandungan makna ketiga surat diatas tadi dengan pendekatan hermeneutic sederhana pada tataran kritik eidetisnya atau proses pemahamannya melalui analisis isi, analisis realitas historis dan analisis generalisasi.
4.      Merumuskan tujuan khusus kinerja/pembelajaran  (Write performance Objectives)
Tujuan pembelajaran khusus merupakan terjemahan dari “Spesific Instructional Objective”. Tujuan pembelajaran khusus adalah rumusan mengenai kemampuan atau perilaku yang diharapkan dapat dimiliki oleh para siswa sesudah mengikuti suatu program pembelajaran tertentu. Kemampuan atau perilaku tersebut harus dirumuskan secara spesifik dan operasional sehingga dapat diamati dan diukur. Dengan demikian tingkat pencapaian siswa dalam perilaku yang ada dalam tujuan pembelajaran khusus dapat diukur dengan menggunakan tes atau alat pengukur yang lain. Karena penulisan tujuan pembelajaran khusus digunakan sebagai dasar dalam mengembangkan strategi pembelajaran dan menyusun kisi-kisi tes pembelajaran.
5.      Pengembangan tes acuan patokan (Develop criterian referenced test items)
Berdasarkan rumusan tujuan pembelajaran di atas, selanjutnya dirumuskan mengenai instrument tes penilaian dan pengukuran untuk mengetahui tingkat ketercapaian tujuan pembelajaran khusus tersebut.
6.      Pengembangan strategi pengajaran (Develop Instructional Strategy)
Langkah ini merupakan upaya memilih, menata dan mengembangkan komponen-komponen umum pembelajaran dan prosedur-prosedur yang akan digunakan untuk membelajarkan peserta didik sehingga peserta didik dapat belajar dengan mudah sesuai dengan karakteristiknya dalam mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Adapun komponen utama strategi pembelajaran adalah meliputi: (1) kegiatan pembelajaran, yakni strategi mengupayakan pengkondisian dan kesiapan mental peserta didik ketika akan mengikuti pelajaran; (2) penyajian informasi, yakni strategi untuk mengembangkan penyajian isi bahan ajar yang harus diberikan kepada peserta didik untuk mencapai tujuan pembelajaran al-Qur’an Hadis; (3) peran peserta didik, yakni strategi mengupayakan keterlibatan mental peserta didik; dan (4) penutup pembelajaran, dengan cara tes yakni strategi untuk melihat tingkat penguasaan dan ketercapaian peserta didik.
7.      Pengembangan dan memilih bahan ajar pembelajaran (Developing and Select Instructional Materials)
Langkah pokok dari kegiatan sistem pengembangan desain pembelajaran al-Qur’an Hadis ini adalah langkah pengembangan dan pemilihan bahan pembelajaran. Adapun hasil dari produk pengembangan ini berupa printed material yakni buku ajar khazanah hermeneutika al-Qur’an Hadis kelas V MI, yang mana bentuk fisik bahan ajar tersebut dapat disajikan dengan beberapa media yang  disesuaikan dengan karakteristik isi pembelajaran yang berupa fakta, konsep, dalil, prinsip, hukum, atau prosedur sebagaimana dicontohkan pada table di bawah ini:
No.
Isi Pembelajaran
Konsturksi Isi
Media
1.
Teks bacaan Q.S. al-Kafirun, Q.S. al-Ma’un, dan Q.S. al-Takasur, teks hadis tentang menyayangi anak yatim.
Konsep, dalil.
Bahan ajar, CD Murottal al-Qur’an edisi Juzz ‘Amma, CD Belajar al-Qur’an Iqra’, kumpulan Alif  Ba Ta. CD Mau>su>’a>h al-Ha>di>th al-S{ari>f.

8.      Merancang dan melaksanakan evaluasi formatif (Design and Conduct Formative Evaluation);
Setelah bahan-bahan pembelajaran dihasilkan, selanjutnya dilakukan evaluasi formatif. Evaluasi formatif dilakukan untuk memperoleh data guna merevisi bahan pembelajaran yang dihasilkan untuk membuat lebih efektif.
9.      Revisi pengajaran (Instructional Revitions)
Adalah langkah merevisi pembelajaran. Data yang diperoleh dari evaluasi formatif kemudian dikumpulkan dan diinterpretasikan untuk memecahkan kesulitan yang dihadapi oleh siswa/peserta didik dalam mencapai tujuan pembelajaran, juga untuk merevisi pembelajaran agar lebih efektif.

D.    KESIMPULAN
Dari pembahasan di atas dapat diambil simpulan sebagai berikut:
Pertama, pengembangan desain instruksional adalah usaha sadar terencana dan totalitas dengan se­perangkat prosedur yang berurutan dan berkesinambungan untuk menganalisis, mengelola/mendesain, mengevaluasi dan melaksanakan pengembangan desain instruksional sehingga menghasilkan sebuah produk yang disebut dengan multimedia.
Kedua, kegunaan media dalam pembelajaran adalah sebagai pendorong (drive) kepada fungsi atensi, fungsi afektif, fungsi kognitif, dan fungsi kompensatoris dalam meningkatkan dan mengembangkan potensi peserta didik dalam proses belajar mengajar.
      Ketiga, dalam memilih pengembangan desain instruksional, maka dapat dibuat sebuah model pengembangan desain instruksional yang disesuaikan dengan perkembangan teknologi dan informasi sekarang yaitu pembelajaran berbasis komputer (Computer Based Instruction).
      Keempat, dalam pengembangan pendidikan Islam melalui teknologi pendidikan Islam sangatlah berperan penting. Dalam hal ini yang diambil adalah model pengembangan desain instruksional Walter Dick & Lou Carey, dengan mengikuti 9 langkah pengembangan. Adapun urutan perancangan dan pengembangan model ini adalah sebagai berikut: (1) Identifikasi tujuan pengajaran; (2) Melakukan analisis instruksional; (3) Mengidentifikasi tingkah laku awal/karakteristik siswa; (4) Merumuskan tujuan kinerja; (5) Pengembangan tes acuan patokan; (6) Pengembangan strategi pengajaran; (7) Pengembangan atau memilih pengajaran; (8) Merancang dan melaksanakan evaluasi formatif; dan ; (9) Revisi pengajaran.






DAFTAR PUSTAKA

Arsyad, Azhar, Media Pembelajaran, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2005.
Briggs, Leslie, J., Instruksional Design: Prinsiples and Aplication, Educational Technology Publicatios: Englewood Cliffs, N.J., 1979.
Darmawan, Deni, Teknologi Pembelajaran, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2011.
Dick, Walter & Carey, Lou, The Systematic design of Intrustion, Boston: Library of Congress Cataloging-in-Publication Data, 1937.
Donal P., Ely, Instruksional Design & Development, (New York: Syracuse University Publ., 1978.
Hamalik, Oemar, Media Pendidikan, Bandung: PT. Alumni, 1986.
Hamim, Nur dkk., Bahan Ajar Pendidikan dan Latihan Profesi Guru Sertifikasi Guru/Pengawas dalam Jabatan Kuota 2011, Surabaya: LPTK. Fak. Tarbiyah IAIN Sunan Ampel, 2011.
Harjanto, Perencanaan Pengajaran, Jakarta: Rineka Cipta, 2008.
Miarso, Yusufhadi dkk., Definisi Teknologi Pendidikan: Satuan Tugas Definisi dan Terminologi AECT, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1994. Diterjemahkan dari buku aslinya “The Definition of Educational Technology” dengan izin khusus dari AECT (Association for Educational Communications and Technology)
--------------------------------, Menyemai Benih Teknologi Pendidikan, Jakarta: Prenada Media, 2004.
Robert L., Baker, & R. Schutz, Richard, Instructional Product Development, New York: Van Nostrand Reinhold Company, 1971.
Salma Prawiradilaga, Dewi dan Siregar, Eveline, Mozaik Teknologi Pendidikan, Jakarta: Prenada Media, 2004.
Seels, Barbara B. & Richey, Rita C., Instructional Technology the Definition and Domains of the Field, Washington DC: AECT, 1994.


[1] Deni Darmawan, Teknologi Pembelajaran (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2011), 38.
[2] Yusufhadi Miarso dkk., Definisi Teknologi Pendidikan: Satuan Tugas Definisi dan Terminologi AECT (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1994), 3. Diterjemahkan dari buku aslinya “The Definition of Educational Technology” dengan izin khusus dari AECT (Association for Educational Communications and Technology), 1977.
[3] Harjanto, Perencanaan Pengajaran (Jakarta: Rineka Cipta, 2008), 95.
[4] Ibid., 190. Dalam definisi desain ini dijelaskan bahwa; desain mengandung tiga unsur. Pertama, adalah tujuan untuk menerjemahkan teori yang umum ke dalam suatu spesifikasi sumber belajar/komponen sistem instruksional; Kedua, adalah hasil suatu spesifikasi untuk produk sumber belajar/komponen sistem instruksional, dalam format atau bentuk apa pun; Ketiga, adalah kegiatan pada umumnya menganalisis dan mensintesis dan secara khusus merumuskan tujuan, menganalisis karakteristik si-belajar, menganalisis tugas, kondisi belajar, peristiwa belajar dan spesifikasi sumber belajar/komponen sistem instruksional.
[5] Ibid., 195.
[6] Baker, Robert L & Richard R Schutz, Instructional Product Development (New York: Van Nostrand Reinhold Company, 1971), 16.
[7] Briggs, Leslie, J., Instruksional Design: Prinsiples and Aplication (Educational Technology Publicatios: Englewood Cliffs, N.J., 1979), 20.
[8] Ibid., XXI
[9] Walter Dick & Lou Carey, The Systematic design of Instruction (Boston: Library of Congress Cataloging-in-Publication Data, 1937), 6.
[10] Ely Donal P., Instruksional Design & Development, (New York: Syracuse University Publ., 1978), 4.
[11] Ibid., Yusufhadi Miarso dkk., Yusufhadi Miarso dkk., Definisi Teknologi Pendidikan: Satuan Tugas Definisi dan Terminologi AECT, 3.
[12] Barbara B. Seels & Rita C. Richey, Instructional Technology the Definition and Domains of the Field (Washington DC: AECT, 1994), 9.
[13] Nur Hamim dkk., Bahan Ajar Pendidikan dan Latihan Profesi Guru Sertifikasi Guru/Pengawas dalam Jabatan Kuota 2011 (Surabaya: LPTK. Fak. Tarbiyah IAIN Sunan Ampel, 2011), 68.
[14] Ibid., 68
[15] Maksudnya adalah: Pengalaman peserta didik berbeda-beda, tergantung dari faktor-faktor yang menentukan kekayaan pengalaman anak, seperti ketersediaan buku, kesempatan melancong, dan sebagainya. Media pembelajaran dapat mengatasi perbedaan tersebut. Jika peserta didik tidak mungkin dibawa ke obyek langsung yang dipelajari, maka obyeknya yang dibawa ke peserta didik. Obyek dimaksud bisa dalam bentuk nyata, miniature, model, maupun gambar-gambar yang dapat disajikan secara audio visual dan audial;
[16] Maksudnya adalah: Banyak hal yang tidak mungkin dialami secara langsung di dalam kelas oleh peserta didik tentang suatu obyek, yang disebabkan, karena: (1) obyek terlalu besar; (2) obyek terlalu kecil; (3) obyek bergerak terlalu lambat; (4) obyek yang bergerak terlalu cepat; (5) obyek yang terlalu kompleks; (6) obyek yang bunyinya terlalu halus; (7) obyek mengandung unsur bahaya dan resiko tinggi. Melalui pengunaan media yang tepat, maka semua obyek itu dapat disajikan kepada peserta didik;
[17] Yusufhadi Miarso, Menyemai Benih Teknologi Pendidikan (Jakarta: Prenada Media, 2004), 459-460.
[18] Azhar Arsyad, Media Pembelajaran (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2005), 15-16. Hamalik juga menjelaskan dalam bukunya “Media Pendidikan” yang dikutip dari Encylopedia of Education Research, tentang nilai atau manfaat media pendidikan sebagai berikut: 1. Meletakkan dasar-dasar yang kongkrit untuk berpikir dan oleh karena itu mengurangi “verbalisme”; 2. Memperbesar perhatian para siswa; 3. Meletakkan dasar-dasar yang penting untuk perkembangan belajar; 4. Memberikan pengalaman yang nyata yang dapat menumbuhkan kegiatan siswa; 5. Menumbuhkan pemikiran yang teratur dan kontinu; 6. Membantu tumbuhnya pengertian dan dengan demikian membantu perkembangan kemampuan berbahasa; 7. Memberikan pengalaman-pengalaman yang tidak mudah diperoleh dengan cara lain serta membantu berkembangnya efisiensi yang lebih mendalam serta keragaman yang lebih dalam belajar. Oemar Hamalik, Media Pendidikan (Bandung: PT. Alumni, 1986), 27. Levie & Lentz dalam Azhar Arsyad mengemukakan empat fungsi media pembelajaran, khususnya media visual, yaitu; 1. Fungsi atensi media visual merupakan inti, yaitu menarik dan mengarahkan perhatian siswa untuk berkonsentrasi pada isi pelajaran yang berkaitan dengan makna visual yang ditampilkan atau menyertai teks materi pelajaran; 2. Fungsi afektif media visual dapat terlihat dari tingkat kenikmatan siswa ketika belajar teks yang bergambar; 3. Fungsi kognitif media visual terlihat dari temuan-temuan penelitian yang mengungkapkan bahwa lambing visual atau gambar dapat memperlancar pencapaian tujuan untuj memahami dan mengingat informasi atau pesan yang terkandung dalam gambar; 4. Fungsi kompensatoris media pembelajaran terlihat dari hasil penelitian bahwa media visual yang memberikan konteks untuk memahami teks membantu siswa yang lemah dalam membaca untuk mengorganisasikan informasi dalam teks dan mengingatnya kembali dengan kata lain bahwa media pembelajaran berfungsi untuk mengakomodasikan siswa yang lemah dan lambat dalam menerima dan memahami isi pelajaran yang disajikan dengan teks atau disajikan secara verbal. Ibid., Azhar Arsyad, Media Pembelajaran, 17.
[19] Ibid., Yusufhadi Miarso dkk., Definisi Teknologi Pendidikan: Satuan Tugas Definisi dan Terminologi AECT, 108-109.
[20] Ibid., Yusufhadi Miarso dkk., Definisi Teknologi Pendidikan: Satuan Tugas Definisi dan Terminologi AECT, 111-112. Pola hubungan kedua Heinich (periksa nomor 2 Gambar 3.6. menunjukkan pembagian tanggungjawab antara guru kelas dan guru bermedia. Pola pengaturan ini memungkinkan sistem yang bersifat adaptif, meskipun tetap mempertahankan keunggulan mutu pengajaran dalam arti luas melalui media. Perhatikanlah bahwa guru bermedia di bagian tengah, mencapai siswa tanpa melalui guru kelas. Dengan kata lain siswa menggunakan waktunya dengan guru bermedia dan selebihnya dengan guru kelas. Bukan guru kelas yang memutuskan apakah siswa perlu belajar dari guru bermedia atau tidak. Keputusan tersebut ditetapkan pada tingkat perencanaan kurikulum.
[21] Nur Hamim dkk., Bahan Ajar Pendidikan dan Latihan Profesi Guru Sertifikasi Guru/Pengawas dalam Jabatan Kuota 2011, 70.
[22] Walter Dick & Lou Carey, The Systematic design of Instrustion (Boston: Library of Congress Cataloging-in-Publication Data, 1937), 1
[23] Nur Hamim dkk., Bahan Ajar Pendidikan dan Latihan Profesi Guru Sertifikasi Guru/Pengawas dalam Jabatan Kuota 2011, 74-75
[24] Yusufhadi Miarso, Menyemai Benih Teknologi Pendidikan, 701-702.

2 komentar:

  1. Mohon maaf, Bahwa Model Digram Pengembangan Desain Pengembangan Instruksional tidak bisa ditampilkan.

    BalasHapus
  2. Terima kasih ya gan atas artikelnya, thanks for sharing :) inspiratif..!!!

    BalasHapus